smunsatuserang

komunitas online sma negeri 1 serang banten
 
IndeksFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 Indonesia takkan maju krn etika kerja cacat dan korupsi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Aldi Ynu
ANAK BARU
ANAK BARU


Male
Jumlah posting : 17
Location : Yokohama
Job/hobbies : Student
Registration date : 10.10.07

PostSubyek: Indonesia takkan maju krn etika kerja cacat dan korupsi   Fri Nov 02, 2007 3:52 pm

Setelah mudik meraih kebahagiaan dengan menemukan makna hidup,
kembalilah mengembara di muka bumi untuk mencari karunia Allah.
Berilah isi pada hidup dengan mengobarkan etos kerja.

Imam Syafi'i berkata, "Berangkatlah, niscaya engkau akan mendapatkan
ganti untuk semua yang engkau tinggalkan. Bersusah payahlah, sebab
kenikmatan hidup direngkuh dalam kerja keras. Ketika air mengalir, ia
akan menjadi jernih, dan ketika berhenti, ia akan menjadi keruh.
Sebagaimana anak panah, jika tak meninggalkan busurnya, tak akan
mengenai sasaran. Bijih emas yang belum diolah sama dengan debu di
tempatnya. Maka, ketika orang berangkat dan bekerja, dia akan mulia
seperti bernilainya emas."

Etos adalah karakter dan sikap dasar manusia terhadap diri dan
dunianya. Ia merupakan aspek evaluatif yang memberi penilaian atas
berharga tidaknya sesuatu. Sejauh dihubungkan dengan persoalan
"kerja", ia memberikan landasan motivasi dan arti apakah kerja itu
dilihat sebagai beban, sekadar menyambung hidup, atau bermakna secara
eksistensial sebagai imperatif kemanusiaan dan jangkar jati diri.

Tidak seperti salah sangka Max Weber, yang mengatakan bahwa ajaran
Islam yang anti-akal tidak memiliki persyaratan rohaniah bagi
produktivitas dan kemajuan ekonomi, ajaran moral Al-Quran memancarkan
etos kerja yang positif. Tak kurang dari 50 kali Quran memuat kata
kerja aqala, yang berarti akal pikiran. Secara tegas pula disebutkan
bahwa "tiadalah sesuatu bagi manusia, melainkan sesuai dengan apa
yang dikerjakannya" (Q.S. 52: 36-42). "Setiap orang bekerja sesuai
dengan bakatnya" (Q.S. 17: 84). "Dan jika engkau berwaktu luang, maka
bekerjalah" (Q.S. 94: 7).

Karena perintah Islam untuk aktif bekerja inilah, Robert Bellah
berani mengatakan bahwa etos yang dominan pada komunitas Islam ideal
adalah giat di dunia ini sebagai aktivis yang bersifat sosial dan
politik, yang relatif dekat dengan etos yang dominan pada kehidupan
modern.

Afinitas antara dorongan rohaniah keagamaan dan kegiatan perekonomian
juga bisa dilihat jejaknya dalam Islam klasik di Nusantara. Islam
masuk ke kepulauan ini melalui jalur perdagangan; juga terdapat
kesesuaian antara kedalaman penghayatan keagamaan dan kegairahan
aktivitas perekonomian, seperti dijumpai pada suku bangsa
Minangkabau, Banjar, dan Aceh. Begitu pun di Jawa, orang-orang Kauman
yang menumbuhkan industri batik, kretek, dan perak menjalankan
kegiatan keagamaan dan perekonomian secara simultan; juga perlu
disebutkan bahwa Sarekat Islam sebagai gerakan massa pertama di
Indonesia lahir dari rahim saudagar-saudagar Islam (Abdullah, 1986).

Karena itu, sungguh serasa petir di siang bolong ketika majalah
Reader's Digest dalam salah satu edisinya menyebutkan bahwa Indonesia
tidak akan dapat menjadi negara maju dalam waktu dekat, karena negara
ini "punya etika kerja yang cacat serta korupsi yang gawat".

Karena persoalan etika dan etos kerja erat kaitannya dengan jiwa
keagamaan, tentu menimbulkan pertanyaan besar, apa yang terjadi
dengan modus keagamaan kita. Bagaimana mungkin dalam suatu masyarakat
yang dilukiskan bercorak religius, etika sosialnya lembek dan korupsi
merajalela. Tidakkah hal ini berati bahwa semarak kehidupan
keagamaan, seperti tercermin dalam pertumbuhan rumah ibadah dan
jamaah haji, hanyalah kesalehan formal yang tidak mengarah pada
kebersihan dan kesalehan sosial.

Karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tentu tidak
berlebihan jiba bangsa ini disebut bangsa muslim, seperti halnya
negara-negara Asia Timur yang sering dilukiskan sebagai little
dragons (bangsa-bangsa Konghucu). Karena itu, kaum muslim Indonesia
dengan ajarannya paling bertanggung jawab untuk melakukan koreksi
atas distorsi pemahaman dan praktek kegamaan.

Memang benar, lemahnya etos kerja, sebagai cerminan suasana rohaniah
keagamaan, tidaklah berdiri sendiri. Ia bertautan dengan persoalan
dukungan struktural. Clifford Geertz telah lama mengindikasikan bahwa
sekalipun etos "kapitalisme", seperti tercermin dalam sikap tekun,
hemat, dan berperhitungan, juga dimiliki oleh kaum santri, kekuatan
ekonomi santri sulit menjadi besar karena tidak didukung oleh
kemampuan organisasi yang baik. Kelemahan organisasi dan ketiadaan
apa yang disebut "corporateness", solidaritas kekaryaan, dalam kaum
santri secara umum juga dilihat oleh James Siegel di Aceh.

Pada ujungnya, kelemahan-kelemahan itu disebabkan oleh faktor
birokrasi pemerintahan yang bersifat eksploitatif, yang melemahkan
daya-daya korporasi dalam masyarakat. Wertheim mengatakan bahwa
kebijakan pemerintah bukan saja memberi contoh terhadap kehidupan
ekonomi, melainkan juga menentukan tingkat kemajuan ekonomi. Dan
kebijakan pemerintah yang buruk bukan saja menghambat kemajuan,
melainkan juga melumpuhkan bibit-bibit kewirausahaan dan etos kerja
yang telah tumbuh dalam masyarakat.

Dengan kekuatan rohani yang dipulihkan oleh gerak kembali ke kampung
Ilahi, serta semangat silaturahmi dalam kesedian saling berbagi,
semoga bangkit kembali etos kerja, kekuatan kerja sama, dan
pengayoman negara demi kemajuan bangsa.

by: Oom Yudi LatiF.....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Indonesia takkan maju krn etika kerja cacat dan korupsi
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
smunsatuserang :: Ragam :: Diskusi Serius-
Navigasi: