smunsatuserang

komunitas online sma negeri 1 serang banten
 
IndeksFAQPencarianPendaftaranAnggotaGroupLogin

Share | 
 

 Kumuh sospol, kumuh ekonomi, dan kumuh moralnya Indonesia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Aldi Ynu
ANAK BARU
ANAK BARU


Male
Jumlah posting : 17
Location : Yokohama
Job/hobbies : Student
Registration date : 10.10.07

PostSubyek: Kumuh sospol, kumuh ekonomi, dan kumuh moralnya Indonesia   Sat Nov 03, 2007 7:17 am

Kita tidak tahu pasti kapan umat Islam pertama kali mulai berpuasa dan ber-Idul Fitri di Nusantara yang elok ini. Jika hasil seminar Medan 1963 dijadikan patokan, berarti sejak abad ke-7/8 sudah ada penghuni muslim di beberapa kawasan kepulauan ini. Itu artinya sudah berlangsung sekitar 14 abad orang beriman berpuasa Ramadan dan merayakan Idul Fitri.

Nama Nusantara digunakan di sini karena Indonesia sebagai bangsa dan negara pada abad itu belum ada bayangan sama sekali. Nama Indonesia baru beredar tahun 1922 di kalangan PI (Perhimpunan Indonesia) di Negeri Belanda, menggantikan sebutan Hindia Timur.

Tetapi proses Islamisasi besar-besaran baru terjadi sejak awal abad ke-17, justru pada saat VOC (1602-1799) mulai mencengkeramkan kuku, memonopoli jalur perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Sebelumnya, sejak abad ke-15, para pangeran Hindu atau Buddha pedalaman Jawa mulai beraliansi dengan saudagar-saudagar muslim sambil pindah agama, pertama, untuk mempertahankan posisi, kedua, untuk menghadapi ancaman pendatang Barat.

Aliansi ini semakin mempercepat proses Islamisasi yang sangat fenomenal itu. Belum ada jawaban tuntas mengapa kemudian proses itu berjalan begitu dahsyat, seperti tak ada kekuatan lain yang mampu menghalanginya. Maka, jadilah sampai hari ini Indonesia dikenal sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi, setidak-tidaknya secara kuantitatif.

Karena Perspektif ini tidak sedang bersejarah-ria, maka kita kembali saja kepada topik tentang Ramadan, Idul Fitri, yang dikaitkan dengan kondisi bangsa. Tidak perlu terlalu runtut, sebagaimana ilmu sejarah menuntutnya. Tenggang waktu selama 14 abad berpuasa dan ber-Idul Fitri bukanlah perjalanan pendek.

Selama itu, umat Islam di Nusantara ini telah berupaya menyucikan diri dalam pengembaraan spiritual untuk meraih takwa (kesadaran tentang kehadiran Allah yang senantiasa mengawal perjalanan hidupnya), tetapi mengapa setelah merdeka bangsa ini masih jauh dari keadaan suci? Agama seakan-akan telah berubah menjadi ritual hampa, tidak ada kaitannya dengan perbaikan prilaku kolektif kita sebagai bangsa muslim nomor wahid dalam hitungan jumlah pemeluk.

Lebih dari 62 tahun Indonesia merdeka, kondisi kita rasanya belum juga membaik, bahkan malah melorot. Jangankan bertambah suci dan takwa dengan implikasinya yang luhur dan mulia, lingkungan kultur kumuh terasa semakin sulit ditembus oleh nurani dan akal sehat. Kumuh politik, kumuh ekonomi, kumuh sosial, dan puncaknya kumuh moral, sekalipun kita berpuasa, bertarawih, dan disudahi pada saatnya ber-Idul Fitri.

Data terakhir menunjukkan, bangsa ini tidak semakin mampu berdiri tegak di atas kedaulatannya sendiri. Kedaulatan itu kini, khususnya kedaulatan ekonomi, sudah sangat rapuh. Kabarnya, di tahun 2007 ini sekitar 85% aset strategis negara telah dikuasai asing, seperti Indosat, pertambangan, dan perbankan.

Jika tren ini berlangsung terus, kesadaran dan rasa tanggung jawab sebagai bangsa tetap saja digerogoti oleh kerakusan akrobatik yang tidak mengenal batas. Maka, mari kita siap-siap menghadapi sebuah era untuk menjadi bangsa kuli. Tidak dalam makna simbolik, tetapi memang sebenarnya kuli. Pada saat itu adalah sebuah nonsens dan tipuan besar jika orang masih saja berbicara tentang nasionalisme, patriotisme, sementara pundi-pundi bangsa telah dilego kepada pihak asing demi menutup APBN yang selalu defisit, sekalipun dibungkus dalam jubah anggaran berimbang.

Pertanyaan yang sangat krusial adalah: apakah negeri ini memang mau digadaikan karena kita tidak mampu memegang amanah kemerdekaan yang dulu telah dirumuskan dalam formula yang padat dan padu? Pada waktu itu, kita ingin secepatnya melihat bangsa ini lepas dari mental terjajah, tetapi mengapa kemudian melalui berbagai helah penjajahan itu kita undang kembali? Ramadan semestinya membawa kita ke gerbang kemenangan di hari raya Idul Fitri, tetapi mengapa bangsa muslim terbesar ini selalu saja keok dalam perlombaan peradaban?

Kualitas perpolitikan kita telah merosot ke titik nadir, ekonomi suram, sosial sarat konflik, dan pandangan moral rabun, tidak kuasa lagi membedakan antara terang siang dan gelap malam. Filosofi mumpungisme yang dianut menjadi penyebab utama mengapa bangsa ini terseok-seok dalam keletihan. Harga diri pun sudah menipis, seperti tak layak merdeka.

Inilah sebuah bangsa cantik dengan ribuan pulau, diapit oleh dua benua, dikawal oleh dua lautan, yang masih belum paham juga akan ke mana mengayunkan langkah ke depan. Para pemimpin masih saja berkicau dengan 1001 janji, sarat retorika, sementara angka kemiskinan belum banyak berkurang. Masih sekitar 40 juta rakyat kita yang telantar. Korupsi jangan ditanya lagi.

Dengan berdalih bahwa bencana alam telah terlalu membebani bahu bangsa ini, tidak salah, tetapi mengapa kondisi kita seperti kampung tidak bertuan bukanlah masalah alam, melainkan sepenuhnya masalah kepemimpinan yang belum juga terselesaikan oleh berbagai sistem politik sampai detik ini.


by: Ahmad Syafii Maarif
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Kumuh sospol, kumuh ekonomi, dan kumuh moralnya Indonesia
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
smunsatuserang :: Ragam :: Diskusi Serius-
Navigasi: